Di sebuah padang rumput yang luas, hiduplah sekawanan domba yang sepenuhnya bergantung pada gembalanya. Domba-domba itu tidak tahu ke mana harus pergi, tidak mengerti di mana rumput yang hijau atau air yang tenang. Satu-satunya pedoman hidup mereka adalah mengikuti suara gembalanya. Namun hal yang terjadi adalah bahwa para gembala tidak memperhatikan kawanan domba tersebut. Setiap hari, ia membiarkan domba-dombanya kelaparan di tanah yang kering dan tandus. Sementara domba-dombanya semakin kurus dan kehausan, si gembala malah asyik duduk santai di tempat yang teduh. Ia hanya ingin mengambil keuntungan, mengambil bulunya tanpa pernah mau memberikan makanan atau merawat mereka. Bagi gembala tersebut selama domba-domba belum mati dan masih bertahan hidup itu bukan masalah yang serius. Akibatnya yang terjadi adalah domba-domba tersebut tercerai-berai. karena merasa tidak ada yang peduli. Tapi, ada satu hal yang tidak disadari si gembala jahat yaitu Tuhan melihat semuanya. Tuhan melihat dan mendengar suara domba-Nya dan Dia tidak tinggal diam melainkan bertindak dan berusaha untuk memenuhi kebutuhan mereka.
Dalam Yehezkiel 34:14–15, Tuhan digambarkan sebagai Gembala Agung yang penuh kasih. Saat para pemimpin umat gagal dan lebih mementingkan diri sendiri, Tuhan tidak membiarkan umat-Nya menderita. Ia sendiri turun tangan untuk menggembalakan domba-domba-Nya. Tuhan berjanji membawa umat-Nya ke padang rumput yang baik. Artinya, Tuhan memberi pemeliharaan yang cukup dan terbaik, bukan sekadar untuk bertahan hidup, tetapi untuk memulihkan kehidupan. Tuhan tahu apa yang dibutuhkan umat-Nya: firman yang menguatkan iman, pengharapan yang meneguhkan, dan kebenaran yang menuntun hidup. Tuhan juga menyediakan tempat beristirahat yang aman. Di bawah perlindungan Tuhan, umat-Nya tidak hidup dalam ketakutan dan kekhawatiran, tetapi mengalami damai sejahtera.